jump to navigation

Psikologi Agama

ASPEK KE MUNDURAN KEYAKINAN REMAJA TERHADAP KEBERAGAMAANNYA TERUTAMA PADA EH

A. Latar belakang masalah
Masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa , usia dimana anak tidak algi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan melainkan berada dalam tingkatan yang sama, integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok, transformasi inteloktual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan social orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.
Ciri-ciri masa remaja
– periode penting
– Sebagai awal periode peralihan
– periode perubahan
– Pencarian identitas,
– Sebagai usia yang menakutkan,
– Masa yang tidak realistic
– sebagai ambang masa dewasa
Dan juga Masa remaja adalah masa sangat labil sehingga keberagamaan seorang remaja sangat sulit untuk diidentifikasi, minat seorang remaja masa kini menaruh minat pada agama dan menganggap bahwa agama berperan penting dalam kehidupan. Minat pada agama antara lain tampak dengan membahas masalah agama disekolah dan perguruan tinggi, mengunjungi tempat ibadah dan mengikuti ritual-ritual keagamaan.
Di lain pihak remaja sekarang lebih sedikit yang mengunjungi tempat ibadah, dibandingkan dengan remaja pada generasi sebelumnya. Ini menunjukan bahwa banyak remaja yang kecewa dengan agama yang terorganisasi, bukannya tidak berminat pada agama itu sendiri. JONES menerangkan “terjadi lebih banyak penurunan dalam kegairahan dan perasaan positif terhadap tempat ibadah daripada peningkatan dan menentang tempat ibadah.
B. Objek Penelitian
Marwa berjenis kelamin laki-laki berasal dari sukabumi pada saat ini marwa berusia 20 tahun. marwa sewaktu kecil sangat rajin beribadah mengikuti pengajian ditempat rumahnya, Marwa anak yang penakut, marwa hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang tuanya akan tetapi suatu ketika marwa mendadak menanyakan kenapa harus melakukan kegiatan-kegiatan seperti itu dan bertanya siapa Allah itu pada kedua orang tuanya ketika orang tua sedang kumpul ternyata yang diperoleh hanya bantahan-bantahan dari orang tuanya tersebut sehingga dari sana marwa tidak mau lagi untuk menanyakan tentang hal-hal yang seperti itu pada orang tuanya.
Ketika Marwa masuk usia remaja awal yaitu berusia 18 tahun, Marwa mulai meragukan keimanannya ditambah merwa bertemu dengan teman-teman kuliahnya yang memang berbeda-beda agama, pada waktu itu bermacam-macam emosi timbul dari diri Marwa yang dulu merasakan baik dan nyaman ataupun tenang kini mulai jarang dirasakan ketenangan tersebut ketika melakukan kegiatan keagamaan seperti rasa lega, tentram ketika setelah melakukan shalat, perasaan pasrah serta menyerah ketika setelah dzikir dan selalu mengingat Allah ketika di timpa musibah baik kesedihan atau kekecewaan yang ada hanya kekesalan dan rasa ingin tahu yang dalam mengenai hal-hal tersebut secara mendalam, Marwa merasa aneh tentang keadaan yang dirasakannya itu.
Sehingga dari sana perasaan marwa terhadap keagamaannya menjadi mulai ragu dan pengalaman keagamaan masa kecil maarwa mulai menelaah sebenarnya benar atau tidak yang dilakukannya itu sesuai tidak dengan imam yang dia pegang itu, maka setelah Marwa berusia 20 tahun Marwa terhadap agama mengalami kemunduran seperti rasa ketentramana dan kelegaan bathin, hal ini diakibatkan Marwa telah banyak memiliki perasaan mengenai sifat tuhan dan kehidupan setelah mati itu seperti apa, banyak pertanyaan yang terungkap dalam perasaannya apalagi Marwa menemukan banyak ragam ritual yang pada temannya tidak ada sedangkan pada Marwa ada.
Sehingga dari sana Marwa jarang mengikuti kegiatan ritual dan Marwa berpikir bahwa ternyata memang benar apa yang diragukan selama ini karena dilihat dari keyakian yang dianutnya itu tidak sama dengan temannya padahal kan sama-sama orang islam, keraguan itu semakin menjadi ketika Marwa dihadapkan pada masa remaja yaitu 20 tahun yang harus berpikir tentang keyakinan yang dianutnya secar lebih realistis. Hal ini karena memang didukung oleh pengalam masa kecil tidak diberitahu mengenai hal yang berkaitang dengan hal tersebut (tidak memperdalam keyakinan yang dipegangnya)
Marwa merasa sadar akan keyakinan yang dimilkinya serta kegiatan yang dilakukannya karena Marwa mulai menggabungkan pengalaman masa lalu dengan masa yang sekarang dilihatnya atau diahasilkannya akan tetapi Marwa tetap merasa ragu akan kegiatan yang dilakukannya apakah kegiatan yang dilakukannya akan mendapat pahala sehingga masuk surga atau malah mendapatkan sehingga masuk neraka sehingga Marwa menjadi terpengaruh oleh hal tersebut, Marwamenjadi tidak konsisten dalam melakukan kegiatan yang berkaitan dengan keagamaannya. Sehingga karena faktor tersebut akhirnya sikap dan tingkah laku Marwa dalam kehidupan beragamanya menjadi belang bentong dalam melakukan perintah-perintah tuhan hal tersebut dilakukan sesuai dengan keinginannya.
C. Teori Yang Digunakan
a. Teori Perkembangan Agama Pada Remaja
1. Keimanan
Teori ini menjelaskan bahwa masa remaja adalah masa gejolaknya perasaan yang kadang-kadang bertentangan satu dengan yang lain, oleh karena itu keyakinan remaja akan sifat tuhan yang banyak berubah-ubah sesuai dengan kondisi emosinya dan ia mengalami keyakinan maju mundur. Kondisi keimanan yang kembar itu adalah salah satu ciri khas remaja yang sedang mengalami kegoncangan jiwa.
– Percaya turut-turutan
Toeri ini menjelaskan percaya turut-turutan biasanya terjadi apabila orang tua memberikan didikan agama dengan cara yang menyenangkan dan setelah remaja telah mengalami peristiwa-peristiwa yang menggoncangkan jiwanya.

– Teori percaya dengan kesadaran
Teori ini menjelaskan bahwa percaya dengan kesadaran dimana mulai adanya kecenderungan untuk meninjau dan meneliti kembali caranya beragama pada masa kecil dulu, biasanya semangat agama ini terjadi sebelum usia 17 atau 18 tahun.
– Percaya tapi ragu
Teori ini menjelaskan tentang kebimbangan biasanya mulai menyerang remaja setelah pertumbuhan kecerdasan mencapai kematangan, sehingga ia dapat mengkritik, menerima dan menolak apa saja yang diterangkan kepadanya
2. Ritual
– Periode Persiapan, yaitu suatu periode dimana para remaja mempersiapkan diri guna mempertinggi penggabungan kegiatan keagamaan orang tua dengan perhatiannya sendiri terhadap agama.
– Periode ragu-ragu terhadap agama
– Periode rekonstruksi, periode ini cepat atau lambat kebanyakan remaja merasakan perlunya melibatkan diri kepada suatu keyakinan tertentu.
3. Pengalaman
Akibat pemahaman yang kritis terhadap keyakinan agamanya yang mereka anut sejak mereka masih kecil, para remaja masih skeptis dan acuh tak acuh terhadap agama, baik dalam pengalaman ibadah maupun usaha untuk mengunjungi temapt ibadah. Akibat dari keraguan ini juga menjadikan berkurangnya kekuatan dalam melaksanakan perintah agama.
D. Analisis Masalah
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian tersebut yaitu menggunakan metode mendeskripsikan, dimana seorang penulis meceritakan kembali apa yang telah disampaikan oleh objek tersebut.
Ternyata Marwa memiliki masalah yang berkaitan dengan konsistensinya terhadap agama yang diyakinya, Marwa mengalami proses turun naik dalam meyakini agamanya, hal ini dihasilkan dari faktor pengalaman masa kecil dan gejolak masa remaja serta pengaruh dari luar seperti lingkungan dan teman sebaya. Sebagaimana terdapat dalam teori perkembangan keagamaan masa remaja kondisi seorang remaja memang dari segi keimanan itu dulunya percaya turut-turutan dari orang tua sehingga ketika dewasa akan mengalami pase keraguan terhadap agama karena memang pengetahuan yang didapatkannya tidak memenuhi hal ini juga terjadi pada Marwa akibat sikap orang tuanya yang temperamen.
Sedangkan dari segi ritual Marwa pun mengalami penurunan diakibatkan karena Marwa melihat teman-teman sebayanya tidak melakukannya, secara teori ritual Marwa memang telah terjadi penggabungan masa lalu dengan masa sekarang sehingga membuatnya menjadi bingun dan menghasilkan suatu keraguan akan keyakinannya walaupun memang secara teori ritual periode tersebut lambat laun akan breubah karena disatu sisi seorang remja akan dapat merasakan betapa pentingnya keberadaan agama disisinya.
Pengalaman terhadap keagamaan Marwa sangat cukup karena dilihat dari kegiatan yang selalu dilakukannya seperti ikut pengajian dan mengaji yang dekat dengan rumahnya, akan tetapi Marwa tidak diberi pengetahuan mengenai apa dari tujuan dan hakikat melakukan kegiatan tersebut sehingga ketika dewasa proses seperti ini tidak terjadi akan tetapi sebaliknya orang tua Marwa tidak memberikan pengalaman keagamaan secara mendalam.

unduh disini

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: