jump to navigation

Teknik Konseling keluarga

Teknik-teknik konseling keluarga

Setelah mempelajari proses dan tahapan konseling keluarga, akan tergambarlah pada pikiran kita bahwa setiap tahap itu tentu mempunyai teknik konseling tertentu, yaitu bagaimana cara yang tepat bagi konselor untuk memahami dan merespon keadaan klien terutama emosinya, dan bagaimana melakukan tindakan positif dalam usaha perubahan perilaku klien kearah positif.
Sesuai dengan pendekatan-pendekatan yang telah dikemukakan di bab-bab yang lalu, maka ada dua pendekatan yang akan dikemukakan, berikut teknik-teknik konseling yang sesuai dengan pendekatan tersebut.
A. Teknik Konseling Keluarga dalam Pendekatan Sistem
Pendekatan system yang dikemukakan oleh perez (1979) mengembangkan 10 teknik konseling keluarga, yaitu:
1. Sculpting (mematung) yaitu suatu teknik yang mengizinkan anggota-anggota keluarga yang menyatakan kepada anggota lain, persepsinya tentang berbagai masalah hubungan diantara anggota-anggota keluarga. Klien diberi izin menyatakan isi hati dan persepsinya tanpa rasa cemas. Sculpting digunakan konselor untuk mengungkapkan konflik keluarga melalui verbal, untuk mengizinkan anggota keluarga mengungkapkan perasaannya melalui verbal, untuk mengizinkan anggota keluarga mengungkapkan perasaannya melalui tindakan (perbuatan). Hal ini bisa dilakukan dengan “the family relationshop tebelau” yaitu anggota keluarga yang “mematung”, tidak memberikan respon apa-apa, selama seorang anggota menyatakan perasaannya secara verbal.
2. Role playing (bermain peran) yaitu suatu teknik yang memberikan peran tertentu kepada anggota keluarga. Peran tersebut adalah peran orang lain dikeluarga itu, misalnya anak memainkan peran sebagai ibu. Dengan cara itu anak akan terlepas atau terbebas dari perasaan-perasaan penghukuman, perasaan tertekan dan lain-lai. Peran itu kemudian bisa dikembalikan lagi kepada keadaan yang sebenarnya jika ia menghadapai suatu prilaku ibunya yang mungkin kurang ia sukai.
3. Silence (diam) apabila anggota berada dalam konflik dan frustasi karena ada salah satu anggota lain yang suka bertindak kejam, maka biasanya mereka datang kehadapan konselor dengan tutup mulut. Kedaan ini harus dimanfaatkan konselor untuk menunggu suatu gejala prilaku yang akan muncul menunggu munculnya pikiran baru. Disamping itu juga digunakan dalam menghadapi klien yang cerewet, banyak omong dan lain-lain.
4. Confrontation (konfrontasi) ialah suatu teknik yang digunakan konselor untuk mempertentangkan pendapat-pendapat anggota keluarga yang terungkap dalam wawancara konseling keluarga. Tujuan agar anggota keluarga itu bisa bicara terus terang, dan jujur serta menyadari perasaan masing-masing. Contoh respon konselor: “siapa biasabya yang banyak omong?”, konselor bertanya dalam suasana yang mungkin saling tuding.
5. Teaching via Questioning ialah suatu teknik mengajar anggota dengan cara bertanya,. 
6. Listening (mendengarkan) teknik ini digunakan agar pembicaraan seorang anggota keluarga didengarkan dengan sabar oleh yang lain. Konselor menggunakan teknik ini untuk mendengarkan dengan perhatian terhadap klien. Perhatian tersebut terlihat dari cara duduk konselor yang menghadapkan muka kepada klien, penuh perhatian terhada setiap pernyataan klien, tidak menyela ketika klien sedang serius.
7. Recapitulating (mengikhtisarkan) teknik ini dipakai konselor untuk mengikhtisarkan pembicaraan yang bergalau pada setiap anggota keluarga, sehingga dengan cara itu kemungkinan pembicaraan akan lebih terarah dan terfokus. Misalnya konselor mengatakan “rupanya ibu merasa rendah diri dan tak mampu menjawab jika suami anda berkata kasar”.
8. Summary (menyimpulkan) dalam suatu fase konseling, kemungkinan konselor akan menyimpulkan sementara hasil pembicaraan dengan keluarga itu. Tujuannya agar konseling bisa berlanjut secara progresif.
9. Clarification (menjernihkan) yaitu usaha konselor untuk memperjelas atau menjernihkan suatu pernyataan anggota keluarga karena terkesan samar-samar. Klarifikasi juga terjadi untuk memperjelas perasaan yang diungkap secara samar-samar. Misalnya mislannya konse,or mengatakan kepada jeni, bukan kepada saya”. Biasanya klarifikasi lebih menekankan kepada aspek makna kognitif dari suatu pernyataan verbal klien.
10. Reflection (refleksi) yaitu cara konselor untuk merefleksikann perasaan yang dinyatakan klien, baik yang berbentuk kata-kata atau ekspresi wajahnya. “tanpaknya anda jengkel dengan prilaku seperti itu”.
B. Skill Individual yang Perlu Dikuasai Konselor
Jika pelaksanaan konseling keluarga melalui pendekatan system tak mungkin dilakukan, maka usaha konselor adalah melakukan pendekatan individual terhadap klien yang mengalami kasus keluarga. Misalnya siswa yang bermasalah bersumber dari keluarga. Berhubung kedua orang tuanya sulit untuk di datangkan kesekolah maka buat pertama kali siswa itu diberi konseling individual. Berikut ini adalah beberapa teknik konseling individual.
1. Teknik-teknik Yang Berhubungan Dengan Pemahaman Diri
Teknik-teknik yang berkaitan dengan pemahaman diri ini dibagi atas tujuh kelompok yaitu:
a. Listening skill (keterampilan mendengarkan)
Keterampilan ini terdiri dari;
(1) Attending, yaitu pernyataan dalam bentuk verbal dan non verbal ketika klien memasuki ruang konselor,
(2) Paraphrasing, yaitu respon konselor terhadap pesan utama dalam pernyataan klien. Respon tersebu merupakan pernyataan ringkas dalam bahasa konselor sendiri tentang pernyataan klien,
(3) Clarfyng, yaitu pengungkapan diri dan memfokuskan diskusi. Konselor memperjelas masalah klien,
(4) Perception checking, yaitu menentukan ketepatan pendengaran konselor.
b. Leading skill (keterampilan memimpin)
Keterampilan ini terdiri dari;
(1) Indirect leading, digunakan dalam awal pembicaraan dimana konselor secara tak langsung memimpin klien,
(2) Direct leading, yaitu memberikan klien dan memperluas diskusi,
(3) Focusing, yaitu memfokuskan pembicaraan, mengawasi keragu-raguan, memfokuskan pembiacaraan yang menyebar atau bertele-tele atau bersamar-samar.
(4) Questioning, berhubungan dengan penilikan atau penyelidikan agar klien membuka diri dengan pernyataan-pernyataan yang baru.
c. Reflecting skill (keterampilan merefleksi)
(1) Reflecting feeling, yaitu keterampilan merefleksi perasaan klien;
(2) Reflecting experience, yaitu keterampilan merefleksikan pengalaman klien
(3) Reflecting content, yaitu keterampilan dalam mengulang ide-ide klien dengan bahasa yang lebih segar dan memberikan penekanan.
d. Summarizing skill (keterampilan menyimpulkan)
Yaitu keterampilan konselor dalam menarik kesimpulan-kesimpulan yang menonjol dari pernyataan klien.
e. Confronting skill (keterampilan mengkonfrontasi)
(1) Pengenala perasaan-perasaan dalam diri konselor, konselor sadar akan pengalaman sendiri dihubungkan dengan pengalaman klien.
(2) Mengkonfrontasikan pengalaman, perasaan dan pemikiran klien yang bertentangan.
(3) Pendapat-pendapat yang mereaksi ekspresi klien, konselor mengkonfrontasikan antara pernyataan dengan ekspresi klien, atau dengan gerakan tubuh, pandangan mata.
(4) Meningkatkan konfrontasi diri
(5) Membuka perasaan-perasaan yang tak jelas (repeating)
(6) Memudahkan munculnya perasaan-perasaan yang tenggelam (associating)
f. Interpreting skill (keterampilan menafsirkan)
Terdiri dari;
a. Pertanyaan penafsiran (interpretive questions), memudahkan munculnya kesadaran klien.
b. Fantasi dan metafora (fantasy and metaphor), yaitu mengandaikan, menyimbolkan ide-ide dan perasaan klien.
g. Informing skill (keterampilan menginformasikan)
a. Nasehat (advising), yaitu member sugesti dan pandangan berdasarkan pengalaman konselor.
b. Menginfrmasikan (informing), yaitu memberikan informasi yang valid berdasarkan keahlian konselor.
2. Keterampilan Untuk Menyenangkan dan Menangani Krisis
Keterampilan ini berhubungan dengan klien atau siapa saja yang mengalami krisis, agar supaya konselor mampu merespon dengan fleksibel, cepat dan aktif, serta mencapai tujuan-tujuan yang terbatas. Skill ini juga berhubungan dengan usaha menyenangkan dan konselor sebagai alatnya.
a. Contacting skill (keterampilan mengadakan kontak). Kontak tersebut bisa berupa kontak mata, dan kontak fisik dengan cara memegang bahu klien agar dia merasa senang dan aman. Tetapi kontak tersebut harus didasari oleh kultur, usia, dan keadaan emosinal klien.
b. Reassuring skill (keterampilan menentramkan hati klien) keterampilan ini merupakan usaha konselor untuk meyakinkan akibat logis perbuatannya atau pendekatan. Hal ini merupakan hadiah (reward) bagi klien dan mengurangi stress atau konfliknya. Tujuan teknik ini untuk menanamkan kepercayaan diri klien, memobilisasi kekuatannya, dan mengurangi kecemasan, dan menguatkan prilaku yang diinginkan. Sebagai contoh: “anda dapat merasakan lebih baik”’ “anda dapat menyelesaikan sendiri masalah anda”.
c. Relaxing skill (keterampilan untuk member relax/santai), teknik ini berguna untuk menurunkan ketegangan dengan jalan mengendurkan otot-otot. Teknik relaxation ini dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Tegangkan kedua otot tangan beberapa detik, kemudian kendorkan perlahan-lahan.
b. Tegangkan otot perut dan dada, kemudian kendorkan perlahan-lahan.
c. Tegangkan otot kaki, kemudia kendorkan perlahan-lahan.
d. Tegangkan otot muka, kemudian kendorkan perlahan-lahan.
d. Crisis interpeving skill, teknik bertujuan untuk mengurangi atau meringankan krisis dengan cara mengubah lingkungan klien.
e. Developing action alternatives, teknik ini adalah mengembangkan laternatif-alternatif dalam mengatasi krisis. Konselor mendorong dan memberanikan klien untuk mempertimbangkan alternative-alternatif yang mungkin dapat dilakukan dalam mengatasi krisisnya. Alternative tersebut hendaknya diarahkan konselor berdasarkan persepsi yang realistic klien. Berdasarkan kenyataan, maka fase mengembangkan tindakan mengambil alternative dalam peristiwa klien yang krisis adalah sebagai berikut:
a. Mengembangkan persepsi realistic klien terhadap krisis yang dihadapi klien.
b. Memberikan dorongan untuk mengurangi ketegangan karena adanya krisis dan konflik.
c. Mempertimbangkan semua alternative untuk menagatasi krisis tersebut.
d. Membuat suatu komitmen tentang perbuatan yang bertujuan mencapai keseimbangan yang beralasan dan kesenangan bagi klien.
f. Reffering skill (keterampilan mereferal klien) keterampilan berhubungan dengan sulitnya bagi konselor untuk membantu klien yang krisis. Karena itu konselor harus merefer atau mengadakan referral kepada seorang yang ahli terhadap kasus klien tersebut. Akan tetapi uspaya referral itu berhasil, maka beberapa persyaratan berikut dapat dipenuhi:
(1) Usaha kesediaan klien untuk referal
(2) Mengetahui sumber-sumber referral yang tepat dimasyarakat
(3) Jujurlah dengan keterbatasan konselor sehingga klien perlu direferal.
(4) Mendiskusikan kemungkinan referral dengan lembaga yang menerima.
(5) Bicarakan dengan klien tentang orang-orang atau lembaga yang pernah ia datangi minta bantuan.
(6) Jika klien masih muda, mintalah rekomendasi orang tuanya.
(7) Katakana dengan jujur kepada klien bahwa setiap lembaga juga ada keterbatasannya.
(8) Berilah kesempatan kepada klien atau orang tuanya untuk membuat perundingan dan perjanjian dengan lembaga baru yang akan menanganinya.
(9) Jangan mengirim informasi kepada lembaga baru tanpa izin tertulis dari klien atau orang tuanya.
Mengenai kondisi-kondisi krisis yang mungkin dialami manusia dapat dibagi atas tiga kategori:
1. Keahlian sesuatu (factor luar), yaitu:
a. Perceraian
b. Kehilangan pekerjaan
c. Kehilangan harta milik sperti kebakaran, pencurian, anak meninggal dan lain-lain.
d. Mengalami bencana atau malapetaka
e. Terkena hukuman penjara
2. Keadaan yang sulit dalam diri, yaitu;
a. Kehilangan harapan
b. Putus asa
c. Depresi
d. Kelelahan dalam suasana perang
e. Usaha-usaha bunuh diri
f. Kecanduan narkotika
3. Keadaan transisi, yaitu;
a. Pindah pekerjaan
b. Konflik keluarga
c. Sakit-sakitan
d. Pindah tempat tinggal
e. Ketakutan akan keadaan yang akan datang mengancam
3. Keterampilan untuk Mengadakan Tindakan Posistif dan Perubahan Prilaku Klien
Keterampilan ini tampaknya banyak diwarnai oleh aliran behavioral therapy (terapi prilaku).
Perubahan prilaku ini adalah masalah teknologi, dan bukan maslah system etika, Metode terapi ini mempunyai karakteristik:
a. Pendekatan empiric objektif terhadap tujuan-tujuan klien
b. Perubahan terhadap lingkungan klien
Mengingat tujuan yang akan dicapai, maka konselor terapi perilaku ditntut keahlian khusus. Adapu keterampilan teknikyang termasuk dalam bagian ini adalah:
a. Modeling. Modeling adalah metode belajar dengan cara mengalami atau memperhatikan perilaku orang lain. Tentu model perilaku yang akan ditiru klien hendaklah yang positif dan sesuai dengan tujuan klien. Adapun prinsif-prinsif umum penggunaan teknik modeling adalah sebagai berikut:
1) Tentukan dulu model perilaku mana yang menarik bagi klien
2) Tentukan tujuan-tujuan yang akan dicapai
3) Pilihlah model yang terpercaya dan sesuai dengan usia, jenis kelamin dan budaya bangsa.
4) Tentukan cara simulasi dan praktikum modeling itu
5) Buat atau persiapkan dulu format modeling, skrip, dan urutan-urutan permainan peranan
6) Diskusi dengan klien tentang reaksi-reaksinya dalam hal perasaan., belajar dan sugesti.
7) Klien akan melakukan model itu secara informasi terus menerus hingga ia berhasil.
b. Rewarding skill (keterampila memberikan reward atau ganjaran) keterampilan ini bertujuan untuk memberikan penguat (reinforcement) kepada klien yang;
1) Berhasil mengatasi perilakunya yang kurang baik
2) Mengubah perilaku yang tidak diinginkan oleh klien
3) Dapat memelihar perilaku yang baik (perilaku baru)
Prinsip umum skill ini adalah:
Pertama, bahwa reward dan system insentif harus dapat mempertahankan derajat perilaku yang tinggi dalam waktu lama.
Kedua, reward hendaknya sesuai dengan perilaku yang diinginkan
Ketiga, reward hendaknya cukup kuat dalam menciptakan perilaku baru penguat atau reward (hadiah) dapat diberikan berupa pujian, semangat, hadiah, benda, senyuman, dan pegangan pada bahu.
c. Contracting skill (keterampilan mengadakan persetujuan dengan klien). Kontrak adalah suatu persetujuan (agreement) dengan klien tentang tugas-tugas khusus. Peran reward disini amat penting.

(Prof. Dr.H.Sofyan S. Willis. Koseling Keluarga (family counseling) suatu upaya membantu anggota keluarga memecahkan masalah komunikasi di dalam system anggota keluarga. Penerbit alfabeta. Bandung: 2009).

unduh disini

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: