jump to navigation

Psikologi perkembangan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bimbingan dan konseling merupakan pembaharuan dari bimbingan konseling tradisional. Adapun beberapa asumsinya adalah, yaitu:
a) Pencapaian Tugas-tugas Perkembangan merupakan tujuan BK.
b) Perkembangan pribadi yg optimal terjadi melalui interaksi yg sehat antara individu dengan lingkungannya.
c) Hakikat BK terletak pada keterkaitan antara lingkungan belajar dengan perkembangan individu.
d) Konseli tidak dipandang sebagai manusia yang sakit mentalnya. Disini Konseli dipandang sebagai individu yang mampu memilih tujuan, membuat keputusan, dan berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam mencapai perkembangan dirinya.
e) Konseli adalah seorang pribadi yang unik dan berharga yg berjuang untuk mengembangkan dirinya. Dia adalah anggota kelompoknya, bagian dari budayanya, dan tidak pernah terisolasi dari lingkungan sosialnya.
f) Konselor tidak bersifat netral, atau a moral, dia memiliki nilai-nilai, perasaan, dan komitmen kepada dirinya.

Maka hal di atas yang menjadikan penulis mengangkat permasalahan dengan judul “TEORI DAN TEKNIK LAYANAN DASAR RESPONSIF KONSELING PERKEMBANGAN”.

B. Rumusan Masalah
Dari penjelasan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang akan diambil adalah sebagai berikut:
a) Bagaimana layanan dasar dalam konseling perkembangan?
b) Apa saja teori-teori yang terdapat dalam konseling perkembangan?
c) Teknik apa saja yang digunakan dalam konseling perkembangan?

C. Tujuan Makalah
Mengacu pada rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a) Untuk mengetahui layanan dasar dalam konseling perkembangan.
b) Untuk mengetahui apa saja teori-teori yang terdapat dalam konseling perkembangan.
c) Untuk mengetahui Teknik apa saja yang digunakan dalam konseling perkembangan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Layanan Dasar Responsif dalam Konseling Perkembangan
1. Pengertian Layanan Responsif
Layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhann yang diarsakan sangat penting oleh siswa pada saat ini. Layanan ini lebih bersifat preventif atau mungkin kuratif. Isi layanan responsif adalah sebagai berikut.

a) Bidang pendidikan
b) Bidang belajar
c) Bidang social
d) Bidang pribadi
e) Bidang disiplin
f) Bidang narkotika
g) Bidang prilaku seksual
a. Perbedaan Konseling Tradisional dan Konseling Perkembangan
Tradisional Perkembangan
• Bersifat Reaktif
• Pendekatan Krisis (Remediatif)
• Hanya melakukan konseling individual
• Tidak semua siswa mendapat layanan
• Menekankan layanan Informasi
• Programnya tidak terstruktur
• Hanya dilakukan oleh Konselor sendiri • Terencana
• Pendekatan Preventif dan Krisis
• Melaksanakan Bimbingan dan konseling
• Semua siswa (for all) mendapat layanan
• Menekankan kepada program pengembangan
• Programnya terstruktur
• Dilakukan oleh konselor dan personel sekolah dalam suatu team work
b. Peningkatan Kualitas Pribadi Konselor
Kualitas konselor akan sangat menentukan keberhasilan layanan yang diberikan pada para konseli. Dengan demikian, para calon konselor dan atau konselor seyogyanya sejak dini meningkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan pelayanan secara optimal dan professional. Banyak upaya yang bisa dilakukan, misalnya : mengikuti pendidikan profesi konselor, mengikuti seminar terkait, praktek langsung di lapangan dan memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai wahana konseling.
ASCA (2000) menitikberatkan kepada para konselor untuk menguasai tiga domain kompetensi, yaitu: kompetensi pengetahuan, kompetensi keterampilan, dan kompetensi profesional. Beberapa contoh dari kompetensi pengetahuan adalah: teori perkembangan manusia dan konsep-konsepnya, pengambilan keputusan karier teori dan teknik, dan model pengembangan program. Beberapa kompetensi keterampilan meliputi: mendiagnosis kebutuhan siswa, karir dan perencanaan pendidikan, dan melaksanakan penataran untuk staf. Kompetensi profesional meliputi: melakukan evaluasi diri untuk menentukan kekuatan dan area yang memerlukan perbaikan, advokasi untuk negara dan sesuai undang-undang nasional, dan mengadopsi satu set etika profesional untuk praktek membimbing. Konselor sekolah harus benar-benar kompeten dalam menciptakan program konseling yang sesuai standard kebutuhan konseli.
c. Rancangan Penyusunan Program Konseling
Pemikiran inovatif yang dikembangkan dalam penyusunan program bimbingan konseling yaitu konselor menyusun program layanan berdasarkan kebutuhan siswa.Bukan semata-mata kebutuhan konselor untuk memenuhi kriteria dalam tugasnya. Salah satu caranya adalah terlebih dahulu konselor menyebarkan kuesioner atau angket tentang kebutuhan akan layanan. Dari hasil angket tersebut, akan dapat diketahui prosentase layanan yang dibutuhkan oleh siswa. Atau membuat tayangan audio visual tentang kebutuhan siswa di sekolah, dan dari tayangan tersebut siswa disuruh merefleksi diri tentang apa yang diinginkannya.
d. Rasio antara Konselor dengan Siswa dalam Pelayanan Konseling
Ketentuan yang berlaku terkait dengan prosentase konselor dengan siswa di Indonesia adalah seorang koselor mempunyai kewajiban terhadap 150 siswa (1:150).Namun yang terjdi di lapangan adalah ketentuan tersebut belum dapat diimplementasikan secara merata.Hal yang menyebabkan adalah kemungkinan dalam suatu sekolah guru BK masih kurang atau kapasitas siswanya terlalu banyak. Salah satu hal inovatif yang bisa dilakukan menjalankan ketentuan tersebut adalah pihak yang berwenang (pmerintah atau kepala sekolah) melakukan pendataan jumlah guru BK dengan siswa dan nantinya membuat patokan supaya bisa memenuhi prosentase 1:150.

2. Strategi Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Strategi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling terkait dengan empat komponen program yaitu: (a) layanan dasar; (b) layanan responsif; (c) perencanaan individual; dan (d) dukungan sistem. Strategi tersebut pada dasarnya dilandasi oleh fungsi bimbingan yaitu pemahaman, preventif, kuratif dan pengembangan.Adapun paparan mengenai strategi layanan tersebut adalah sebagai berikut.
a. Strategi untuk Layanan Dasar Bimbingan
1) Bimbingan Klasikal
Pada prinsipnya, layanan dasar diperuntukkan bagi semua siswa. Hal ini berarti bahwa dalam peluncuran program yang telah dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan layanan bimbingan kepada para siswa. Kegiatan layanan dilaksanakan melalui pemberian layanan orientasi dan informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi siswa. Layanan orientasi pada umumnya dilaksanakan pada awal pelajaran, yang diperuntukan bagi para siswa baru, sehingga memiliki pengetahuan yang utuh tentang sekolah yang dimasukinya. Kepada siswa diperkenalkan tentang berbagai hal yang terkait dengan sekolah, seperti : kurikulum, personel (pimpinan, para guru, dan staf administrasi), jadwal pelajaran, perpustakaan, laboratorium, tata-tertib sekolah, jurusan (untuk SLTA), kegiatan ekstrakurikuler, dan fasilitas sekolah lainnya.
Sementara layanan informasi merupakan proses bantuan yang diberikan kepada para siswa tentang berbagai aspek kehidupan yang dipandang penting bagi mereka, baik melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet). Layanan informasi untuk bimbingan klasikal dapat mempergunakan jam pengembangan diri. Agar semua siswa terlayani kegiatan bimbingan klasikal perlu terjadwalkan secara pasti untuk semua kelas.
2) Bimbingan Kelompok
Konselor memberikan layanan bimbingan kepada siswa melalui kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat para siswa. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress. Layanan bimbingan kelompok ditujukan untuk mengembangkan keterampilan atau perilaku baru yang lebih efektif dan produktif.
3) Berkolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas
Program bimbingan akan berjalan secara efektif apabila didukung oleh semua pihak, yang dalam hal ini khususnya para guru mata pelajaran atau wali kelas. Konselor berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka memperoleh informasi tentang siswa (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan pribadinya), membantu memecahkan masalah siswa, dan mengidentifikasi aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran. Aspek-aspek itu di antaranya : (a) menciptakan sekolah dengan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif bagi belajar siswa; (b) memahami karakteristik siswa yang unik dan beragam; (c) menandai siswa yang diduga bermasalah; (d) membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui programremedial teaching; (e) mereferal (mengalihtangankan) siswa yangmemerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing; (f) memberikan informasi tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang diminati siswa; (g) memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja (tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja); (h) menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan “figur central” bagi siswa); dan (i) memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang diberikannya secara efektif.
4) Berkolaborasi (Kerjasama) dengan Orang Tua
Dalam upaya meningkatkan kualitas peluncuran program bimbingan, konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi siswa atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa. Untuk melakukan kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti : (1) kepala sekolah atau komite sekolah mengundang para orang tua untuk datang ke sekolah (minimal satu semester satu kali), yang pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian rapor, (2) sekolah memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang kemajuan belajar atau masalah siswa, dan (3) orang tua diminta untuk melaporkan keadaan anaknya di rumah ke sekolah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan perilaku sehari-harinya.

b. Strategi untuk Layanan Responsif
1) Konsultasi
Konselor memberikan layanan konsultasi kepada guru, orang tua, atau pihak pimpinan sekolah dalam rangka membangun kesamaan persepsi dalam memberikan bimbingan kepada para siswa.
2) Konseling Individual atau Kelompok
Pemberian layanan konseling ini ditujukan untuk membantu para siswa yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.Melalui konseling, siswa (Konseli) dibantu untuk mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat.Konseling ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.Konseling kelompok dilaksanakan untuk membantu siswa memecahkan masalahnya melalui kelompok. Dalam konseling kelompok ini, masing-masing siswa mengemukakan masalah yangdialaminya, kemudian satu sama lain saling memberikan masukan atau pendapat untuk memecahkan masalah tersebut.
3) Eferarl (Rujukan atau Alih Tangan)
Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah Konseli, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan Konseli kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Konseli yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis.
4) Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)
Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa yang lainnya.Siswa yang menjadi pembimbing sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik. Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau masalah siswa yang perlu mendapat layanan bantuan bimbingan atau konseling.

c. Strategi untuk Layanan Perencanaan Individual
1) Penilaian Individual atau Kelompok (Individual or small-group Appraisal)
Yang dimaksud dengan penilaian ini adalah konselor bersama siswa menganalisis dan menilai kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi belajar siswa.Dapat juga dikatakan bahwa konselor membantu siswa menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas perkembangannya, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Melalui kegiatan penilaian diri ini, siswa akan memiliki pemahaman, penerimaan, dan pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif.
2) Individual or Small-Group Advicement
Konselor memberikan nasihat kepada siswa untuk menggunakan atau memanfaatkan hasil penilaian tentang dirinya, atau informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan dan karir yang diperolehnya untuk (1) merumuskan tujuan, dan merencanakan kegiatan (alternatif kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya; (2) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3)mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya.

d. Strategi untuk Dukungan Sistem
1) Pengembangan Professional
Konselor secara terus menerus berusaha untuk “meng-update” pengetahuan dan keterampilannya melalui (1) in-service training, (2) aktif dalam organisasi profesi, (3) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar dan workshop (lokakarya), atau (4) melanjutkan studi ke programyang lebih tinggi (Pascasarjana).
2) Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi
Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf sekolah lainnya, dan pihak institusi di luar sekolah (pemerintah, dan swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang layanan bantuan yang telah diberikannya kepada para siswa, menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa, melakukan referal, serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling. Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan upaya sekolah untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu layanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan orang tua siswa, (5) MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).
3) Manajemen Program
Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan tercisekolaha, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Mengenai arti manajemen itu sendiri Stoner (1981) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: “Management is the process of planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing members and of using all other organizational resources to achieve stated organizational goals”.
Berikut diuraikan aspek-aspek sistem manajemen program layanan bimbingan dan konseling.

a) Kesepakatan Manajemen
b) Keterlibatan Stakeholder
c) Manajemen dan Penggunaan Data
d) Rencana Kegiatan
e) Pengaturan Waktu
f) Kalender Kegiatan
g) Jadwal Kegiatan
h) Anggaran
i) Penyiapan Fasilitas
j) Pengendalian

B. Teori Konseling Dalam Perkembangan
1) Teori Psikoanalis (Sigmund Freud)
Tahap-Tahap Perkembangan Kepribadian
a. Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa.
b. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.
2) Teknik Konseling RET
Terapi rasional emotif menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakat. Manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain. RET menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara stimulan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan- perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik.
Tujuan konseling dalam Rasional Emotif Terapi ini, adalah sebagai berikut:
1. Memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi dan keyakinan klien yang irasional menjadi rasional.
2. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri (takut, rasa bersalah, rasa berdosa, cemas, was-was, mudah marah dan mudah tersinggung).
Untuk mencapai tujuan konseling, klien perlu memahami sistem keyakinan dan cara berpikirnya sendiri.
Tiga tingkatan pemahaman:
a. Klien memahami tingkah laku negatif, yang berupa penolakan terhadap peristiwa yang disebabkan oleh sistem keyakinan irasional.
b. Klien memahami bahwa yang mengganggu klien pada saat ini adalah karena keyakinan klien yang terus dianutnya.
c. Klien memahami bahwa tidak ada jalan lain untuk mengatasi masalahnya, kecuali merubah cara berpikir irasional menjadi rasional
3) Teori Behavioral
Dalam konsep bahvioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya.

C. Teknik-Teknik Dasar dalam Konseling Perkembangan
Ada beberapa pokok bahasan penting yang perlu dipahami dalam proses pemberianlayanan konseling terutama kaitannya dengan pembentukan sikap konselor dalam polahubungan konselor-klien (Colledge, 2002), yaitu :
1) Membangun Rapport
Kemampuan seorang konselor untuk membangun hubungan awal yang baik dikenal dengan istilah rapport. Proses ini akan membantu memastikan klien dan keluarganya mendatangi konselor dalam kerangka pikir yang positif. Rapport akan membuat wawancara lebih disukai dan akan menjadikan klienmemiliki harapan yang menyenangkan terhadap wawancara itu sendiri.
Proses rapport akan lebih bermakna manakala dikembangkan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Yang lebih penting lagi adalah aspek nonverbal. Kehangatan, ekspresi suara yang bersahabat dan ramah, penerimaan penuh (unconditional positive regard), dan ketertarikan atas situasi masalah klien merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Dalam membangun rapport, faktor yang paling penting dari keseluruhan di atas, yaitu tingkah laku dan sikap pewawancara (Rahman, 1999).
2) Penerimaan dan Kepedulian (Acceptance and Caring)
Banyak pertanyaan yang muncul tentang seberapa jauh sikap-sikap klien dapat diubah hanya dengan nasihat, persuasi (ajakan), dan harapan-harapan. Lebih dari sekedar memberikan nasihat, konselor harus dapat mengaktualisasikan sikap penerimaan dan kepedulian terhadap klien. Hal ini merupakan suatu kewajaran, karena pada dasarnya klien ingin dihormati, dipahami, dan dicintai. Inilah yang dimaksudkan Sorokin sebagai kebutuhan mendasar terhadap cinta altruistik (altruistic love). Dalam relasi konseling yang terbangun antara konselor-klien, unconditional positive regard (menerima dan menghargai klien sepenuhnya tanpa mempersyaratkan hal-hal tertentu) serta nonjudgmental (tidak menghakimi dan mempersalahkan klien) merupakan dasar-dasar dari sikap-sikap altruistik yang perlu menjadi etos keprofesionalan seorang konselor (Brammer, Abrego, dan Shostrom; 1993).
3) Empati
Empati adalah ekspresi konoselor yang merupakan ungkapan pernyataandapat memahamiapa yang dirasakan klien. Untuk berempati konselor harus mengikuti semua yang diekspresikan oleh klien, baik berupa penuturan, ekspresi wajah, sikap tubuh, dan lain-lainnya. Oleh sebab itu, konsentrasi dan kemauan konselor untuk mendengarkan sangatlah diperlukan agar dapat mengikuti semua pembicaraan klien (Hayati, 2000; Brammer, dkk, 1993).
4) Menghargai Perbedaan Individual (Individual Differences)
Menurut Staehr, sebagaimana yang dikutip oleh Hayati (2000, 12), setiap individu adalah unik dan berbeda satu sama lain. Masing-masing memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.Konselor harus selalu berpegang teguh pada prinsip ini agar tidak terjebak dalam sikapmembanding-bandingkan klien dengan individu lain.
5) Refleksi dan Klarifikasi
Refleksi dan Klarifikasi pada dasarnya merupakan teknik menggali masalah yang dialami oleh klien. Refleksi adalah kemampuan konselor dalam menangkap persoalan klien yang kemudian dipancarbalikkan kepada klien. Refleksi dapat berupa refleksi perasaan klien dan refleksi isi persoalan yang dialami oleh klien (Hayati, 2000).
6) Wawancara Konseling
J. Rich sebagaimana dikutip oleh Barker (1990;11) mengklasifikasikan wawancara konseling ke dalam beberapa fungsi utama yang berkaitan terhadap wawancara terhadap anak dan remaja, yaitu :
a. Wawancara penelusuran fakta (fact-finding interviews). Wawancara ini didisain untuk menemukan informasi-informasi yang sangat dibutuhkan. Dalam setting klinis wawancara ini mencari data-data historis yang berkaitan dengan keadaan individu, keadaan keluarga (familyhistory), dan informasi kondisi-kondisi spesifik anak dan situasi sosial yang melingkupinya.
b. Wawancara pemberian fakta (fact-giving information). Bentuk wawancara ini adalah suatu proses dimana pewawancara memberi informasi kepada klien yang diwawancarai.
c. Wawancara terapi (treatment interviews). Dalam psikoterapi, wawancara ini kerapkali digunakan untuk memberikan prosedur-prosuder terapi yang berfungsi untuk megatasi atau menyembuhkan klien dari situasi nerotis dan psikotis yang dialaminya
1. Tahap pertama berupa fase perkenalan; bertujuan membuat diri si konselor dan klien atau pihak keluarga lainnya yang terlibat saling mengetahui satu sama lain. Selama tahapan wawancara ini, konselor sebagai pewawancara harus menanyakan tentang usia klien, tanggal kelahiran, kehadiran di sekolah, tingkat pendidikan, dan lainlain.
2. Pada tahap yang kedua atau tahapan inti, proses yang terjadi dalam wawancara adalah proses pertukaran informasi (exchange of information). Dalam wawancara klinis pencarian informasi menjadi fokus utama, tetapi kadang-kadang yang juga tak kalah pentingnya adalah pemberian informasi-informasi tertentu kepada klien yang diwawancarai.
3. Tahap yang terakhir berupa termination phase didahului oleh sinyal-sinyal tertentu yang datangnya dari konselor. Kira-kira 5 – 10 menit, konselor sudah mempersiapkan diri untuk menutup proses wawancara. Satu hal yang penting adalah melakukan klarifikasi kepada klien tentang-tentang kemungkinan-kemungkinan prognosis atau perkembangan kasus yang dihadapinya untuk waktu mendatang. Kira-kira prospek masalah yang akan datang apakah bersifat positif ataukah negatif.

BAB III
KESIMPULAN

Dalam proses konseling telah banyak ditemukan berbagai permasalahan yang dihadapi sehingga para konselor harus mampu menyelesaikan perihal tersebut dengan memakai berbagai teknik, teori dan layanan tersebut.
Adapun teori yang dapat digunakan dalam konseling perkembangan sebagai berikut:
1) Teori Psikoanalisis
2) Teori Behavioristik
3) Teori Rasional Emotif Terapi
Teknik yang melengkapi yang mendasarinya antara lain yaitu:
1) Membangun Rapport
2) Penerimaan dan Kepedulian (Acceptance and Caring)
3) Empati
4) Menghargai Perbedaan Individual (Individual Differences)
5) Refleksi dan Klarifikasi
6) Wawancara Konseling
Adapun layanan responsive adalah layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh peserta saat ini. Layanan ini berisfat preventif atau mungkin kuratif. Strategi yang digunakan adalah konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi. Isi layanan responsive ini adalah:
a) Bidnag pendidikan
b) Bidang belajar
c) Bidang sosial
d) Bidang pribadi
e) Bidang karir
f) Bidang tata tertib sekolah
g) Bidang narkotika dan perjudian
h) Bidang prilaku seksual
i) Bidang kehidupan lainnya

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen PMPTK, 2007. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). Jakarta
Erford,T.Brandley. (2004) Professional School Counseling, A Hanbook of Theories, Programs & Practices. United States of America :Caps Press
Suherman, Uman. 2009. Manajemen Bimbingan dan Konseling.Bandung : Rizqi Press
Yusuf,S.,& Nurishan,J. 2009. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Nurihsan, A. J., (2005). Strtegi Layanan Bimbingan & Konseling. Bandung: PT. Refika Aditama

http://konselingindonesia.com

unduh disini

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: